Dugaan Kekerasan terhadap Siswa SDN Krapyakrejo 1 Pasuruan Disorot, Orang Tua Minta Penanganan Serius
Pasuruan, Narasiberita.co.id.- Dugaan tindakan kekerasan fisik dan perilaku tidak pantas terhadap sejumlah siswa di SDN Krapyakrejo 1 menjadi sorotan. Seorang guru agama berinisial ID dilaporkan sejumlah orang tua siswa karena diduga melakukan pemukulan serta tindakan lain yang membuat anak-anak merasa takut mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan keterangan sejumlah orang tua, beberapa siswa disebut tidak berani masuk sekolah setiap Selasa, bertepatan dengan jadwal pelajaran agama yang diampu guru tersebut.
Mereka diduga mengalami ketakutan setelah mengalami atau mengetahui tindakan yang dilakukan oleh guru bersangkutan.
Saat awak media mendatangi SDN Krapyakrejo 1 untuk meminta konfirmasi, awak media ditemui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah. Pihak sekolah menyampaikan bahwa guru berinisial ID telah dimintai keterangan terkait dugaan tersebut.
Menurut keterangan Plt Kepala Sekolah, ID awalnya tidak mengakui dugaan pemukulan saat dimintai klarifikasi oleh pihak sekolah.
Namun, ketika dipertemukan dengan wali murid yang anaknya diduga menjadi korban, ID disebut memberikan pengakuan berbeda dan membenarkan adanya kejadian pemukulan.
Selain dugaan kekerasan fisik, muncul pula informasi mengenai dugaan tindakan tidak pantas terhadap siswa.
Informasi yang diterima menyebutkan bahwa pada 2025 pernah terjadi dugaan pelecehan seksual terhadap seorang siswa yang kini duduk di kelas V. Namun, informasi tersebut masih memerlukan penelusuran dan klarifikasi lebih lanjut dari pihak terkait.
Guru berinisial ID juga dituding pernah mencium dua siswa laki-laki kelas I. Salah satu orang tua siswa berinisial BM membenarkan adanya kejadian yang menimpa anaknya.
“Iya,dlu pertama masuk sekolah jga pernah ngomong kalau ID suka cium pipi sampai gak mau masuk sekolah ank.e,,trus barusan jga tak tanyain ank.e jga ngaku Pipi.nya suka di gemesin trus di cium” ungkap kepada awak media.
Pengakuan serupa disampaikan orang tua siswa lainnya. Orang tua berinisial MB menyebut anaknya, RN, pernah mengalami pemukulan di bagian kepala oleh guru tersebut.
Akibat kejadian itu, RN disebut merasa takut mengikuti pelajaran agama hingga memilih tidak masuk sekolah ketika mata pelajaran tersebut berlangsung.
“RN setiap pelajaran agama tidak berani masuk sekolah karena takut,” ungkap MB.
Berbagai keterangan dari orang tua siswa tersebut memunculkan kekhawatiran terkait keamanan dan kenyamanan anak selama mengikuti kegiatan belajar mengajar. Sekolah semestinya menjadi lingkungan yang aman bagi peserta didik, baik secara fisik maupun psikologis.
Atas munculnya sejumlah dugaan tersebut, pihak sekolah dan instansi terkait diharapkan melakukan penelusuran secara menyeluruh dan objektif.
Pemeriksaan perlu dilakukan dengan mengedepankan perlindungan anak, termasuk meminta keterangan siswa melalui pendampingan yang tepat serta melibatkan orang tua dan pihak-pihak yang mengetahui kejadian.
Klarifikasi dari guru yang bersangkutan dan tindak lanjut dari dinas pendidikan maupun instansi perlindungan anak juga diperlukan agar persoalan ini dapat ditangani secara transparan serta tidak merugikan hak-hak para siswa.
(Tim)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


















