Cuaca Ekstrem Hantui Petani Cabai Natuna, Ada yang Terpaksa Semai Ulang Bibit
Natuna, Narasiberita.co.id – Kondisi cuaca yang tidak menentu di wilayah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, dalam beberapa waktu terakhir menjadi tantangan tersendiri bagi para petani cabai. Pergantian cuaca ekstrem antara hujan dan panas dalam waktu singkat membuat petani harus bekerja ekstra untuk menjaga tanaman tetap tumbuh dan produktif.
Salah satunya dialami Junaidi, petani cabai asal Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur. Ia mengaku perubahan cuaca yang sulit diprediksi memengaruhi pola perawatan tanaman cabainya, sekaligus meningkatkan kebutuhan biaya operasional.
Meski demikian, Junaidi masih bersyukur karena tingkat kematian tanaman cabai yang dibudidayakannya tergolong rendah.
“Dari 1.300 bibit cabai yang saya tanam, Alhamdulillah tanaman yang mati tidak sampai 1 persen,” ungkap Junaidi melalui pesan WhatsApp, Senin (2/11/2026) sore.
Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang bergantian antara hujan dan panas mengharuskan petani memberikan perhatian lebih terhadap tanaman. Terlebih, pada musim basah, sejumlah tanaman mulai menunjukkan gejala kerusakan daun yang diduga akibat serangan bakteri dan jamur.
Di tengah tantangan yang dihadapi petani, Junaidi menyampaikan bahwa Kelompok Tani (Poktan) Suka Maju Desa Sepempang sebelumnya telah menerima bantuan pupuk dari pemerintah.
“Alhamdulillah ada bantuan. Di awal tahun kemarin, kami dari Poktan Suka Maju Desa Sepempang mendapatkan bantuan pupuk non-subsidi sebanyak kurang lebih satu ton, yang disalurkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan 20 anggota kelompok tani kami,” bebernya.
Menurut Junaidi, bantuan tersebut cukup membantu anggota kelompok tani dalam memenuhi kebutuhan pupuk untuk kegiatan pertanian.
Namun, menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu, para petani masih membutuhkan dukungan agar produktivitas tanaman tetap terjaga.
Ia berharap pemerintah daerah turut memperhatikan kestabilan harga cabai di pasaran sehingga petani tetap mendapatkan nilai jual yang layak.
“Harapan kami, pemerintah bisa menjaga kestabilan harga cabai di pasar agar tetap ideal,” harap Junaidi.
Persoalan cuaca dan gangguan tanaman ternyata tidak hanya dialami petani di Desa Sepempang.
Wardi, salah seorang petani cabai asal Desa Batu Gajah, juga mengungkapkan kondisi tanaman cabainya yang mengalami kerusakan cukup parah.
Ia mengaku sebagian besar bibit cabai yang ditanam pada musim ini mengalami gejala keriting daun secara menyeluruh. Kondisi tersebut membuatnya harus mengulang proses pembibitan agar dapat kembali melanjutkan usaha pertanian.
“Saya harus semai ulang bibit cabai,” pungkas Wardi.
Kondisi yang dialami Junaidi dan Wardi menjadi gambaran tantangan yang dihadapi petani hortikultura di wilayah kepulauan Natuna. Perubahan cuaca, gangguan tanaman, biaya perawatan, hingga ketidakpastian harga pasar menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Dukungan pemerintah daerah, pendampingan teknis pertanian, serta upaya menjaga stabilitas harga di tingkat pasar diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.
(Zani)F
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


















