Asa di Balik Jeruji: Warga Binaan Lapas Bengkulu Tempuh Pendidikan Paket A hingga C

Bengkulu, Narasiberita.co.id | Menjalani masa pidana di balik tembok penjara rupanya tidak menghentikan langkah warga binaan untuk menimba ilmu. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu kembali memfasilitasi para penghuninya yang ingin melanjutkan sekolah melalui program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C pada Sabtu (17/10/2026).

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar ini, pihak Lapas menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Songo Langit. Di bawah bimbingan langsung para tenaga pendidik dari PKBM tersebut serta dukungan jajaran petugas lapas, proses pembelajaran berjalan dengan tertib dan kondusif.

Warga binaan mengikuti jenjang yang sesuai dengan riwayat pendidikan mereka yang sempat terputus, mulai dari tingkat setara Sekolah Dasar (SD) untuk Paket A, Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Paket B, hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk Paket C.

Langkah edukatif ini merupakan wujud nyata pembinaan kepribadian inklusif di dalam lapas. Tujuannya bukan sebatas memberikan pengetahuan dasar, melainkan juga untuk menumbuhkan rasa percaya diri, memperluas wawasan, dan menyiapkan bekal akademik bagi warga binaan sebelum nantinya kembali menghirup udara bebas.

Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, menyebutkan bahwa pemenuhan hak pendidikan sangat krusial dalam menunjang fase pembinaan. Menurutnya, ruang gerak yang terbatas seharusnya tidak menutup peluang pengembangan potensi diri.

“Pendidikan merupakan salah satu bekal penting bagi warga binaan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Melalui program pendidikan kesetaraan ini, kami ingin memastikan bahwa mereka tetap memiliki kesempatan untuk belajar, menambah pengetahuan, dan mempersiapkan diri agar dapat kembali ke masyarakat dengan lebih percaya diri,” ujar Julianto.

Program di ruang tahanan ini turut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengenai jalur pendidikan nonformal. Sesuai dengan standarnya, kurikulum pendidikan kesetaraan dirancang agar tidak hanya berfokus pada materi akademik, tetapi juga menyertakan muatan pemberdayaan serta keterampilan. Hal ini disesuaikan langsung dengan kebutuhan peserta didik maupun potensi lingkungan sekitarnya.

Melalui sinergi yang berkelanjutan dengan PKBM Songo Langit, Lapas Bengkulu berupaya menerapkan sistem pemasyarakatan yang lebih humanis dan berorientasi pada perubahan perilaku positif. Pembekalan ilmu pengetahuan ini diharapkan mampu melancarkan proses reintegrasi sosial, sehingga setelah merampungkan masa hukumannya, para warga binaan siap menjalani kehidupan baru di tengah masyarakat sebagai individu yang lebih produktif dan bertanggung jawab.

(Rian)

Tinggalkan Balasan