Suryani Firdaus Buka Sosialisasi PAAREDI: Bentengi Anak dari Pernikahan Dini di Tengah Arus Digitalisasi

KOTA PASURUAN, Narasiberita.co.id- Kecepatan arus informasi di era digital menjadi tantangan baru bagi ketahanan keluarga. Ketua TP PKK Kota Pasuruan, Suryani Firdaus, menekankan bahwa orang tua harus menjadi garda terdepan dalam membentengi anak-anak dari risiko pernikahan dini yang kerap dipicu oleh salahnya pergaulan di dunia maya.

Hal tersebut ditegaskan Suryani saat membuka Sosialisasi Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI) bertajuk “Cegah Perkawinan Anak” di Ruang Pertemuan TP PKK Kota Pasuruan, Kamis (23/4/2026).

Suryani mengungkapkan bahwa kemudahan akses teknologi yang saat ini berada dalam genggaman anak-anak harus diimbangi dengan kehadiran orang tua secara fisik dan emosional.

Tanpa pendampingan yang tepat, anak-anak berisiko terjerumus pada konten negatif yang dapat mendorong keputusan prematur untuk menikah.

Saat ini teknologi ada di genggaman anak-anak kita. Ini menjadi tantangan besar bagi orang tua untuk tetap hadir dan mendampingi agar anak tidak tersesat, termasuk dalam menghadapi risiko pernikahan dini yang sering kali diawali dari interaksi digital yang tidak terawasi,” ujar Suryani.

Pernikahan di bawah usia 19 tahun, menurut Suryani, merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap remeh.

Ia mengingatkan bahwa pada usia tersebut, anak secara biologis dan psikologis belum matang untuk memikul beban rumah tangga.

Beberapa risiko utama pernikahan anak yang disoroti:

Sektor Pendidikan: Meningkatnya angka putus sekolah yang memutus masa depan anak.

Sektor Kesehatan: Risiko kelahiran prematur dan tingginya potensi bayi stunting akibat ketidaksiapan organ reproduksi ibu.

Sektor Sosial: Kerentanan terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) karena ketidakstabilan emosi.

Melalui program PAAREDI, TP PKK Kota Pasuruan berupaya mengedukasi para kader dan orang tua agar memiliki kecakapan digital (digital literacy) dalam mengasuh anak.

Perlindungan terhadap anak bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kolaborasi antara lingkungan terkecil (keluarga) dan masyarakat luas.

Anak-anak yang menikah dini belum siap secara fisik, mental, maupun reproduksi. Karena itu, orang tua wajib memberikan pemahaman dan perlindungan agar mereka fokus pada pendidikan dan masa depannya terlebih dahulu,” tegas istri Wali Kota Pasuruan tersebut.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan mampu menekan angka dispensasi nikah di Kota Pasuruan sekaligus menciptakan lingkungan pengasuhan yang sehat di tengah gempuran teknologi informasi. (Eka)

Tinggalkan Balasan