BI Bengkulu Perketat Kebijakan Moneter, Stabilitas Rupiah Jadi Fokus Utama
Bengkulu, Narasiberita.co.id. – Bank Indonesia (BI) terus memperketat bauran kebijakan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya tekanan global terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi.
Salah satu langkah strategis yang ditempuh yakni menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps), melanjutkan kebijakan pengetatan moneter yang sebelumnya telah mendorong kenaikan suku bunga hingga 550 bps.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan semata-mata untuk merespons gejolak pasar keuangan, melainkan menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan ekspektasi inflasi akibat tekanan eksternal.
Menurutnya, menjaga daya saing rupiah menjadi prioritas utama di tengah tren kenaikan suku bunga global.
Ketika banyak bank sentral dunia menawarkan imbal hasil lebih tinggi, Indonesia harus memastikan instrumen keuangannya tetap kompetitif agar arus modal asing tidak keluar secara besar-besaran.
“Stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting. Surat berharga Indonesia harus tetap kompetitif agar aliran modal asing tetap terjaga dan rupiah tidak mengalami tekanan yang berlebihan,” ujar Wahyu.
Selain menjaga stabilitas kurs, BI juga berupaya meredam ancaman imported inflation atau inflasi yang dipicu kenaikan harga barang impor.
Pelemahan rupiah dinilai dapat meningkatkan biaya bahan baku dan barang modal impor sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
BI menargetkan inflasi nasional tetap berada pada kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Karena itu, kebijakan suku bunga dipandang menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar.
Wahyu menjelaskan, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu tingginya permintaan dolar Amerika Serikat akibat sejumlah faktor global dan domestik.
Mulai dari konflik geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak dunia sehingga meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi, musim pembagian dividen perusahaan kepada investor asing, hingga meningkatnya kebutuhan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.
“Kondisi tersebut membuat permintaan dolar meningkat dalam waktu bersamaan dan memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Meski demikian, Wahyu menilai Provinsi Bengkulu memiliki peluang untuk memperkuat ketahanan ekonomi melalui ekspor komoditas unggulan serta pengembangan sektor hortikultura yang terus tumbuh.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut dapat menjadi sumber devisa sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi daerah di tengah dinamika global.
Sementara itu, inflasi Bengkulu pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,86 persen yang dipicu kenaikan harga pangan bergejolak atau volatile food, terutama komoditas cabai.
Namun memasuki Juni, BI melihat tekanan harga mulai mereda seiring membaiknya pasokan dan distribusi pangan.
“Kami melihat tren harga mulai turun. Potensi inflasi Juni diperkirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Wahyu.
Ia menegaskan, stabilitas nilai tukar harus dijaga secara seimbang agar tidak menimbulkan distorsi terhadap perekonomian. Rupiah yang terlalu lemah dapat menekan daya beli masyarakat dan dunia usaha, sementara penguatan yang berlebihan juga berpotensi menurunkan daya saing ekspor.
Di tengah dinamika global, pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi melalui berbagai instrumen kebijakan, mulai dari pengelolaan cadangan devisa, intervensi pasar secara terukur, hingga pengendalian inflasi daerah.
Langkah tersebut dinilai penting agar pergerakan rupiah tetap terkendali, iklim investasi terjaga, serta aktivitas ekonomi nasional maupun daerah dapat tumbuh secara berkelanjutan tanpa menimbulkan guncangan bagi pelaku usaha dan masyarakat. (Nrl)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











