Gagal Menikah karena Terganjal Restu, Wanita di Kepahiang Nekat Panjat Tower

Kepahiang, Narasiberita.co.id.-  Sebuah drama emosional nyaris berujung tragedi terjadi di Kabupaten Kepahiang pada Jumat malam (17/4/2026).

Seorang wanita berinisial S nekat memanjat tower seluler setelah rencana pernikahannya dengan sang kekasih, R (34), terbentur restu pihak keluarga.

Aksi nekat S sempat memicu kerumunan warga yang diliputi rasa cemas. Beruntung, situasi mencekam tersebut berhasil diredam oleh kesigapan personel Satreskrim Polres Kepahiang.

Melalui negosiasi yang alot namun persuasif, petugas berhasil membujuk S untuk turun dari ketinggian dalam keadaan selamat.

Setelah dievakuasi, pasangan tersebut langsung diamankan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kepahiang.

Proses pemeriksaan dan pendampingan berlangsung hingga pukul 23.00 WIB, dengan melibatkan pihak keluarga serta perangkat desa setempat guna mencari solusi kekeluargaan.

Akar Masalah: Status Hukum yang Belum Tuntas

Berdasarkan pendalaman informasi, penolakan pihak keluarga bukan tanpa alasan. Meski S mengaku telah dijatuhi talak oleh suami sebelumnya sekitar dua bulan lalu, secara administrasi negara ia masih berstatus istri sah.

Aksi ini dipicu karena rencana pernikahan tidak direstui. Secara hukum negara, status yang bersangkutan belum resmi bercerai sehingga menjadi kendala utama bagi keluarga,” ungkap perwakilan otoritas setempat.

Pemerintah Kabupaten Kepahiang melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) memastikan akan terus mengawal kasus ini.

Kabid PPA, Yuliani, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memulihkan kondisi mental S agar tindakan berbahaya serupa tidak terulang kembali.

Intervensi awal: Pendampingan dilakukan sejak evakuasi untuk menenangkan korban.

Tujuan utama: Menjaga keselamatan korban dari tindakan destruktif akibat tekanan emosional.

Tindak lanjut: Melakukan konseling psikologis lanjutan secara berkala.

Sesuai fungsi kami, kami akan terus mendampingi S secara psikologis agar ia memiliki kestabilan emosi dalam menghadapi persoalan ini,” tutup Yuliani. (Adedo , Rian)

Tinggalkan Balasan