Para Atlet Merasa Dikhianati Oleh Janji Pemerintah Daerah,Puluhan Atlet dan Aktivis Geruduk Kantor Wali Kota Pasuruan
PASURUAN-Jatim, Narasiberita.co.id- Gelombang kekecewaan melanda dunia olahraga Kota Pasuruan. Puluhan atlet didampingi kelompok aktivis menggelar aksi unjuk rasa damai di depan Kantor Wali Kota Pasuruan, Senin (02/03/2026).
Massa menuntut keadilan serta pencairan hak atas jerih payah para atlet yang telah berjuang mengharumkan nama kota di tingkat Provinsi Jawa Timur.
Para atlet merasa dikhianati oleh janji pemerintah daerah setelah menjalani latihan keras selama satu tahun hingga membuahkan medali emas, perak, dan perunggu.
Asisten Pelatih Atlet, Wahyu, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas sikap Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan yang dianggap tidak profesional.
Menurutnya, para atlet telah mengorbankan waktu dan fisik, bahkan hingga mengalami cedera saat latihan demi meraih prestasi.
”Kami berupaya maksimal agar tim ini menjadi nomor satu di Jawa Timur. Kami latihan keras hingga rekan-rekan ada yang cedera, semua demi membawa harum nama Kota Pasuruan. Namun, setelah prestasi diraih, pemerintah justru tidak memberikan hak kami. Apakah Pemkot tidak malu dengan daerah tetangga yang mendukung penuh atletnya?” ujar Wahyu dengan nada getir.
Wahyu mendesak agar Pemkot segera merealisasikan bonus yang telah dijanjikan dan tidak mengecewakan para pejuang olahraga dengan harapan palsu.
Aksi ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (GM-FKPPI), Ayi Suhaya.
Ia menilai adanya ketidakberesan dalam pengelolaan anggaran bonus atlet di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
Dalam orasinya, Ayi menyampaikan poin-poin krusial:
Dugaan Pemotongan Bonus: Massa menduga bonus yang diterima tidak sesuai dengan nominal yang dijanjikan di awal.
Desakan Penyelidikan: Meminta aparat penegak hukum, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk menyelidiki dugaan “kongkalikong” atau penyelewengan anggaran di Pemkot Pasuruan.
Kritik Transparansi: Menilai pengelolaan anggaran olahraga saat ini hanya menjadi “panggung sandiwara”.
Ketegangan sempat meningkat ketika Wali Kota Pasuruan maupun Sekretaris Daerah (Sekda) tidak kunjung menemui massa aksi untuk memberikan penjelasan. Tidak adanya perwakilan resmi dari Pemkot memicu amarah pendemo yang merasa aspirasi mereka diabaikan.
”Wali Kota jangan jadi pengecut! Temui masyarakat yang menuntut keadilan bagi para atlet. Ketidakhadiran pimpinan daerah hari ini menunjukkan sosok yang enggan menghadapi aspirasi rakyatnya sendiri,” tegas Ayi Suhaya.
Massa mengancam akan kembali melakukan aksi dengan jumlah yang lebih besar jika tuntutan mengenai hak-hak atlet tidak segera dipenuhi secara transparan dan tuntas. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Pemerintah Kota Pasuruan terkait tuntutan massa aksi tersebut. (Eka)


















