BRIEF 2026, BI Bengkulu Tekankan Pentingnya Investasi dan Ekspor untuk Pacu Ekonomi
Bengkulu, Narasiberita.co.id. — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bengkulu mendorong penguatan investasi, ekspor, produksi pangan, dan sektor pariwisata sebagai strategi untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan sinergi dalam kegiatan Bengkulu Regional Investment and Economic Forum (BRIEF) 2026, Senin (12/10/2026).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan investasi dan perdagangan internasional memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama ketika konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah belum cukup kuat untuk menjadi pendorong utama.
Menurut Wahyu, seluruh aktivitas ekonomi, mulai dari produksi hingga perdagangan besar dan eceran, memberikan kontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Bengkulu.
Karena itu, BI terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, serta mendorong aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Semua aktivitas ekonomi pasti punya kontribusi. Karena itu, yang selalu kita dorong di Bank Indonesia bersama mitra adalah produksi. Semua produksi pasti akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi,” ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, pengendalian inflasi tidak semata-mata bertujuan menahan kenaikan harga, tetapi juga memastikan ketersediaan pasokan barang melalui peningkatan produksi dan kelancaran distribusi.

Dengan pasokan yang terjaga, kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, stabilitas harga lebih terkendali, dan aktivitas ekonomi tetap tumbuh.
Wahyu menilai investasi menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Bengkulu lebih tinggi.
Menurutnya, investasi asing juga berpotensi mendatangkan tambahan modal dan devisa yang turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Selain investasi, peningkatan ekspor menjadi peluang bagi Bengkulu untuk memperluas pasar produk unggulan sekaligus meningkatkan penerimaan devisa.
“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kita membutuhkan tambahan dorongan. Salah satunya melalui investasi, termasuk penanaman modal asing, serta perdagangan yang bisa menghasilkan devisa,” jelasnya.
Ia berharap forum BRIEF 2026 dapat mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor sehingga peluang investasi yang ditawarkan pemerintah daerah dapat berkembang menjadi komitmen dan realisasi investasi.
Penguatan kesiapan proyek, peningkatan daya saing produk, dan perluasan akses pasar dinilai penting agar potensi ekonomi Bengkulu dapat dimanfaatkan secara optimal.
Selain investasi dan ekspor, BI Bengkulu juga mendorong pengembangan UMKM melalui berbagai kegiatan ekonomi, termasuk festival yang diselenggarakan bersama pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
Wahyu menjelaskan, kegiatan tersebut dapat mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen, meningkatkan transaksi perdagangan, serta memperluas pemasaran produk lokal.
Semakin banyak UMKM yang terlibat dan masyarakat yang berbelanja, semakin besar pula peluang peningkatan perputaran uang di daerah.
Menurutnya, penguatan UMKM perlu berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bengkulu berpotensi menambah devisa sekaligus meningkatkan permintaan terhadap berbagai produk dan jasa lokal.
Dampaknya dapat dirasakan oleh pelaku usaha transportasi, kuliner, penjualan suvenir, hingga sektor pendukung pariwisata lainnya.
“Semakin banyak wisatawan mancanegara yang datang, semakin besar peluang devisa masuk. Aktivitas ekonomi juga bergerak karena kebutuhan transportasi, makanan, suvenir, dan berbagai layanan lainnya meningkat,” katanya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Wahyu mengingatkan bahwa perkembangan harga komoditas internasional dan kebijakan suku bunga dapat memengaruhi perekonomian domestik.
Kenaikan harga energi, misalnya, berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menambah tekanan inflasi. Sementara itu, suku bunga yang tinggi dapat meningkatkan beban pembiayaan bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
Meski demikian, BI Bengkulu memperkirakan inflasi Provinsi Bengkulu hingga akhir 2026 berada di kisaran 3 persen.
Wahyu menyebutkan, inflasi Bengkulu hingga September 2026 tercatat sekitar 3,3 persen secara tahunan. Pergerakan inflasi dipengaruhi sejumlah komponen, termasuk harga yang diatur pemerintah, inflasi inti, serta harga pangan yang bergejolak.
Karena itu, pengendalian inflasi membutuhkan koordinasi lintas sektor untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, terutama bagi komoditas pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap pengeluaran masyarakat.
Wahyu menegaskan, peningkatan produksi pangan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Komoditas seperti cabai, padi, dan bahan pangan strategis lainnya perlu dijaga ketersediaan serta kelancaran distribusinya agar tidak terjadi kekurangan pasokan yang berpotensi memicu kenaikan harga.
“Komoditas pangan harus kita jaga. Produksi cabai harus bagus, produksi padi juga harus bagus, dan pasokan komoditas strategis lainnya harus cukup,” tegasnya.
Melalui BRIEF 2026, BI Bengkulu berharap sinergi antara pemerintah daerah, investor, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan semakin kuat dalam mendorong investasi produktif, memperluas ekspor, mengembangkan UMKM, serta menjaga stabilitas harga.
Dengan demikian, berbagai potensi ekonomi Bengkulu diharapkan dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah produk daerah, dan memperkuat ketahanan ekonomi di tengah tantangan global.
Penulis: Nrl
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


















