IDAI Bengkulu Gelar Simposium Nasional, Bahas Kegawatdaruratan dan Tantangan Kesehatan Anak

Bengkulu, Narasiberita.co.id. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Bengkulu menggelar Simposium Nasional IDAI Bengkulu di Hotel Mercure Bengkulu, Sabtu (7/1/2026).

Kegiatan ini diikuti sebanyak 140 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, baik secara luring maupun daring, yang terdiri dari dokter anak, dokter umum, serta tenaga kesehatan lainnya.

Ketua Panitia Pelaksana Simposium Nasional IDAI Bengkulu, dr. Laila Fitri Rahmi, menyampaikan bahwa simposium ini dirancang sebagai forum ilmiah untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan anak, khususnya dalam penanganan kegawatdaruratan serta penguatan kolaborasi lintas sektor.

Simposium ini menjadi wadah berbagi ilmu dan pengalaman untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan anak, terutama dalam menghadapi kasus-kasus kegawatdaruratan,” ujar dr. Laila dalam laporannya.

Sementara itu, Ketua IDAI Cabang Bengkulu, dr. Jumnalis, menegaskan bahwa penyelenggaraan simposium ini sangat penting mengingat kondisi kesehatan anak di Provinsi Bengkulu masih memerlukan perhatian serius.

Ia memaparkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023 yang menunjukkan angka kematian bayi nasional sebesar 6,85 per 1.000 kelahiran hidup, sementara Provinsi Bengkulu mencapai 19,73 per 1.000 kelahiran hidup.

Adapun angka kematian balita secara nasional tercatat 19,83 per 1.000 kelahiran hidup, sedangkan di Bengkulu mencapai 23,38 per 1.000 kelahiran hidup.

Data ini menunjukkan bahwa angka kematian bayi dan balita di Bengkulu masih berada di atas rata-rata nasional. Melalui simposium ini, kami berharap dapat berkontribusi menurunkan angka tersebut sekaligus mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030,” kata dr. Jumnalis.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IDAI, dr. Hikari Ambaran Syakti.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam penanganan kegawatdaruratan serta deteksi dini penyakit pada anak.

Penanganan kegawatdaruratan dan deteksi dini penyakit pada anak membutuhkan kolaborasi yang kuat antarberbagai pihak, baik dokter anak, subspesialis, pemerintah, maupun pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya.

Simposium Nasional IDAI Bengkulu secara resmi dibuka oleh Gubernur Bengkulu yang diwakili Asisten I Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar.

Dalam sambutannya, ia mengungkapkan keprihatinan terhadap meningkatnya kasus penyakit kronis pada anak usia dini yang berpotensi menghambat pencapaian bonus demografi serta visi Indonesia Emas 2045.

Ia berharap simposium ini tidak hanya berfokus pada aspek kuratif, tetapi juga melahirkan gagasan strategis dalam upaya pencegahan melalui edukasi pola hidup sehat serta penguatan kolaborasi lintas sektor.

Simposium ini diharapkan dapat mendorong lahirnya rekomendasi dan langkah nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan anak di Provinsi Bengkulu,” kata Khairil Anwar.

Sebagai penutup rangkaian pembukaan, dilakukan penyerahan simbolis dari IDAI Cabang Bengkulu kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu sebagai bentuk komitmen bersama dalam upaya peningkatan kesehatan anak.

Penyerahan tersebut diterima langsung oleh Asisten I Setda Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar. (NH)

Tinggalkan Balasan