Harmoni Multikultural di Ponpes Ngalah: Laboratorium Toleransi yang “Sangat Indonesia”
Pasuruan-Jatim, Narasiberita.co.id- Di tengah dinamika zaman, Pondok Pesantren Ngalah yang terletak di Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, berdiri teguh sebagai simbol kerukunan.
Sejak dirintis oleh KH. Moh. Sholeh Bahruddin Kalam pada 1985 hingga kini diasuh oleh KH. M. Sholeh Bahruddin, pesantren ini konsisten mempraktikkan nilai-nilai toleransi yang melampaui sekat keyakinan.
Bagi KH. M. Sholeh Bahruddin atau yang akrab disapa Kiai Sholeh, menghargai perbedaan bukanlah hal yang rumit. Saat ditemui di kediamannya pada Rabu (8/4/2026), beliau menekankan prinsip dasar yang dipegang teguh oleh seluruh santrinya.
”Wong kita ini podo menungsane” (Karena kita ini sama-sama manusia).
Pernyataan singkat tersebut menjadi ruh bagi kehidupan di dalam pondok. Pesantren Ngalah membuka pintu lebar bagi siapa saja—baik Muslim maupun non-Muslim—untuk berdialog, berbagi wawasan, atau sekadar berkunjung. Inilah yang membuat suasana di Ngalah terasa sebagai miniatur Indonesia yang sesungguhnya.
Keberagaman di Ponpes Ngalah tidak hanya sekadar slogan, namun diwujudkan dalam berbagai kegiatan rutin yang mengasah semangat inklusivitas santri:
Diskusi Lintas Budaya: Mempertemukan berbagai perspektif untuk memahami perbedaan.
Seminar Perdamaian: Mengkaji isu-isu kemanusiaan dan resolusi konflik.
Perayaan Hari Besar: Melibatkan ragam tradisi santri untuk memperkuat rasa persaudaraan.
Pendidikan Multikultural: Memasukkan nilai-nilai keberagaman dalam kurikulum pendidikan, sehingga santri siap menjadi duta perdamaian di masyarakat.
Ponpes Ngalah telah berkembang menjadi institusi pendidikan yang komprehensif. Tidak hanya fokus pada pendidikan non-formal (pondok), Ngalah juga memayungi jalur formal secara lengkap:
Pendidikan Anak Usia Dini (KB/TK).
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Perguruan Tinggi (Universitas Yudharta Pasuruan).
Selain aspek akademik, Kiai Sholeh tetap menjaga sisi spiritualitas melalui Pendidikan Khususiyah (Thoriqoh).
Thoriqoh yang diamalkan di Ponpes Ngalah adalah Thoriqoh Naqsabandiyah Wal Qodiriyah Wal Mujadadiyah, yang menjadi penyeimbang antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual.
Meski memiliki ribuan santri dan pengaruh yang luas, Kiai Sholeh hanya menitipkan pesan sederhana namun mendalam bagi para generasi muda:
Jauhi Molimo: Menghindari larangan agama dan negara (Main, Madon, Minum, Madat, Maling).
Etika Adalah Kunci: Beliau menegaskan bahwa setinggi apa pun pendidikan seseorang, tanpa etika (akhlaqul karimah), ia tidak akan dihargaiBermanfaat bagi Sesama: Menjadi pribadi yang memberikan dampak positif di mana pun berada.
”Sepintarnya model apa tapi kalau etikanya jelek, tidak dihargai,” tegas Kiai Sholeh.
Pondok Pesantren Ngalah membuktikan bahwa menjaga tradisi thoriqoh dan pendidikan modern dapat berjalan beriringan dengan semangat kebangsaan yang inklusif, menciptakan harmoni yang abadi di Kabupaten Pasuruan. (Eka)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


















