Kampung Tempe Parerejo: Warisan Gurih Purwodadi yang Kini Mendunia Lewat Inovasi
Pasuruan-Jatim, Narasiberita.co.id- Aroma kedelai rebus yang khas akan langsung menyambut siapa saja yang menginjakkan kaki di Desa Parerejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Dikenal sebagai Kampung Tempe, desa ini telah puluhan tahun menjadi sentra produksi tempe yang kualitasnya tersohor hingga ke luar daerah.
Di tangan para pengrajin kreatif, tempe di sini tidak lagi sekadar lauk pauk sederhana, melainkan telah bertransformasi menjadi aneka camilan kekinian dengan nilai ekonomi tinggi.
Salah satu sosok penggerak di Kampung Tempe adalah Mukhammad Irfan. Dalam sehari, Irfan mampu mengolah hingga 1 kwintal kedelai. Uniknya, ia tidak hanya terpaku pada bentuk tempe konvensional.
Irfan melakukan diversifikasi produk yang membuat omzetnya tembus Rp50 juta per bulan. Beberapa produk olahannya meliputi:
Olahan Modern: Brownies tempe, cookies tempe, dan nugget tempe.
Camilan Tradisional: Keripik tempe (Rp70.000/kg), mendol krispi, dan tempe mendoan (Rp6.000/isi 6).
Produk Klasik: Tempe batangan (Rp30.000/papan berat 2kg) dan tempe kemasan mika (Rp10.000).
”Tempe Parerejo ini beda dengan yang lain, karena rasanya gurih dan empuk di lidah,” ungkap Irfan.
Kualitas tempe Parerejo yang khas berasal dari ketelatenan warga dalam menjaga proses produksinya. Berikut adalah tahapan umum pembuatan tempe yang dilakukan oleh warga:
Pembersihan & Perebusan: Kedelai pilihan direbus hingga lunak untuk mempermudah pelepasan kulit ari.
Perendaman: Kedelai didiamkan (asamkan) semalam untuk mendapatkan tekstur dan aroma yang pas.
Pemisahan Kulit & Penirisan: Kulit ari dibuang dan kedelai dikeringkan dari sisa air.
Pemberian Ragi: Setelah dingin, kedelai dicampur ragi tempe secara merata.
Pembungkusan: Menggunakan daun pisang atau plastik, lalu difermentasi selama 1-2 hari.
Irfan juga mendirikan “Omah Edukasi Tempe”, sebuah ruang bagi masyarakat umum, pelajar, maupun wisatawan yang ingin mempelajari seluk-beluk pembuatan tempe.
”Siapapun yang mau ke sini silakan, akan kami ajari proses membuat tempe sampai jadi beragam olahan,” ajaknya.
Camat Purwodadi, Sugiarto, mengungkapkan bahwa skala produksi di Desa Parerejo sangat fantastis. Dengan dukungan sekitar 185 pengrajin, desa ini mampu memproduksi total 20 ton tempe per hari.
Total Pengrajin: 185 orang.
Total Produksi: 20 ton/hari.
Perputaran Uang: Mencapai Rp200 juta per hari.
Dukungan pemerintah kecamatan dan kabupaten terus digulirkan agar potensi ekonomi kerakyatan ini terus bertahan dan berkembang, terutama dalam hal standarisasi kualitas dan perluasan jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional. (Eka)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


















